Menjemput Musim Panen

Kehutanan masyarakat yang mulai mendapatkan tempat dalam wacana pengelolaan hutan di Indonesia setahun menjelang reformasi 1998, hingga sekarang masih bergulat dengan berbagai tantangan dan hambatan. Dari menyesuaikan diri dengan berbagai kebijakan yang mengatur pelaksanaannya hingga mengelola kegiatan di tingkat tapak yang tak kalah melelahkan. Hanya mereka yang konsisten dengan arah geraknya sendiri yang bisa memastikan bahwa pada akhirnya cita-cita: “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” bisa menjadi kenyataan.

Perhimpunan SHOREA yang sejak tahun 2001 terlibat dalam berbagai kegiatan fasilitasi kehutanan masyarakat tidak lepas dari berbagai pergulatan itu. Memulai langkah dengan dialog parapihak kehutanan untuk membedah berbagai permasalahan seputar partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan sampai akhirnya menunjukkan bukti tentang pentingnya kehutanan masyarakat dalam menghambat pengurangan luasan kawasan berhutan dan mencegah penurunan kualitas fungsi hutan bagi lingkungan terutama dalam penyerapan emisi karbon.

Tiga belas tahun tentu bukan waktu yang sedikit untuk dibiarkan kembali hilang dalam alur yang tidak terkendali. Kerja keras masih dibutuhkan untuk bisa memastikan bahwa semuanya berada pada jalur yang benar sebelum bisa menggapai tujuan akhir. Paling tidak harus bisa dipastikan bahwa tahun 2015 adalah tahun yang penuh harapan untuk semua rencana yang telah disusun oleh kelompok-kelompok masyarakat tersebut.

foto puji crop
Puji Raharjo, S.TP.

Tahun 2015 akan kembali menjadi tahun yang penuh tantangan karena sejumlah 6 Koperasi Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kabupaten Gunungkidul telah mencanangkan untuk memanen kayu dalam rencana operasionalnya. Puji Raharjo, Direktur Eksekutif SHOREA memaparkan bahwa sekarang sedang dilakukan inventarisasi hutan oleh koperasi-koperasi HKm untuk bisa menentukan jatah tebang yang sesuai dengan rencana kelestarian hutan. Selain itu, SHOREA juga berencana untuk meningkatkan intensitas pendampingan kepada 4 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kabupaten Gunungkidul, 7 Koperasi HKm di Kabupaten Kulonprogo dan 3 Koperasi Hutan Tanaman Rakyat (HTR) di Kabupaten Gunungkidul. Khusus untuk LPHD akan diusahakan untuk segera memperoleh Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) di tahun depan.

Dua puluh unit usaha kehutanan masyarakat tersebut di atas diarahkan untuk mengembangkan rencana usaha kehutanan yang realistis sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. SHOREA akan selalu berada di tengah dampingannya untuk memperkuat kapasitas teknis dan kapasitas kelembagaan sampai akhirnya kemandirian tercapai. (ZNR)

Share This:

Bupati Gunungkidul dan Minister Kedutaan Jepang Meresmikan Gedung Pertemuan Sawmill KWML

Kamis (30/01/2014) Bupati Gunungkidul Hj. Badingah meresmikan Gedung Pertemuan Sawmill KWML di Jalan Raya Playen-Getas, Desa Dengok, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Bangunan tersebut merupakan bantuan dari Kedutaan Jepang untuk Indonesia. Perwakilan Kedutaan Jepang Minister Mr. Ushio Shigeru hadir untuk menyerahkan bantuan berupa kantor beserta peralatan penggergajian kayu rakyat.

Hibah tersebut dalam rangka mendukung pengelolaan hutan rakyat secara lestari oleh Koperasi Wana Manunggal Lestari  (KWML) Gunungkidul. Hibah dari kedutaan dikelola oleh Perhimpunan Shorea, untuk kemudian diserahkan hasil proyek hibah tersebut kepada KWML.

Koperasi yang berdiri sejak tahun 2006 tersebut merupakan unit yang mengelola hutan rakyat dari hulu ke hilir. Kegiatan mulai dari melakukan penanaman, pemeliharaan, penebangan, hingga pengolahan kayu.

Areal kelola hutan rakyat oleh KWML seluas 1.153,32 hektar hutan rakyat bersertifikat Pengelolaan Hutan Lestari pada 4 desa , serta areal sertifikasi VLK seluas 1.236,25 hektar pada 6 desa. Hutan rakyat yang dikelola secara lestari ini dibatasi penebangan pohonnya maksimal sebesar 120 meter kubik kayu, untuk menjaga kelestarian produksi dan kelestarian lingkungan.

Melalui bantuan kedutaan Jepang ini, KWML memiliki unit penggergajian kayu yang digunakan untuk meningkatkan nilai tambah kayu. KWML dapat menjual kayu gergajian dengan harga yang kompetitif, karena didukung oleh sumber bahan baku kayu bulat yang berasal dari hutan rakyatnya.

Share This:

+Penyadaran +Pemberdayaan +Penguatan

LinkedIn Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial