MONEV RESTORASI EKOSISTEM MERAPI: Menarik pembelajaran dari demplot untuk perluasan skala kegiatan

Jogja, 30 Mei 2013IMG_1786

Implementasi program percepatan restorasi ekosistem di desa-desa terdampak erupsi Merapi dilakukan dengan mengkombinasikan kebutuhan pangan dan tujuan konservasi. Proyek ini telah membangun demplot wanatani seluas 15,8 Ha di 2 desa yaitu Kepuharjo dan Umbulharjo di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sebanyak 20.193 tanaman holtikultura dan tanaman kehutanan ditanam sesuai rencana yang disusun bersama masyarakat. Pembentukan demplot yang terpisah dimaksudkan untuk memberi contoh pembelajaran sebagai berikut:

  1. Pendekatan teknis yang disesuaikan dengan variasi kedalaman material erupsi
  2. Sistem wanatani yang disesuaikan dengan ragam kebutuhan pemilik lahan
  3. Pencegahan bahaya longsor di tebing Sungai Gendol
  4. Restorasi ekosistem untuk pengembangan desa wisata di Desa Umbulharjo

Untuk mendapatkan masukan dari pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan restorasi ekosistem Merapi, pada hari Rabu, 29 Mei 2013, Perhimpunan SHOREA mengadakan lokakarya sehari dengan tujuan:

  1. Monitoring dan evaluasi program restorasi ekosistem Merapi
  2. Mengambil pembelajaran dari program restorasi ekosistem berbasis masyarakat untuk replikasi atau upaya perluasan

Lokakarya yang diselenggarakan di Balai Desa Kepuharjo ini dihadiri Pemerintah Desa Umbulharjo dan Kepuharjo, GAPOKTAN di kedua desa, kelompok tani peserta program dan kepala dusun di wilayah sasaran program.

Beberapa point penting untuk keberlanjutan program adalah sebagai berikut:

  1. Rintisan kegiatan restorasi ekosistem dinilai cukup berhasil dan perlu dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
  2. Masyarakat kedua desa masih membutuhkan pendampingan untuk keberlanjutan kegiatan restorasi ekosistem yang membuka peluang-peluang peningkatan pendapatan warga desa
  3. Rencana restorasi ekosistem hasil rembug warga menyuarakan bahwa kombinasi kegiatan pertanian, kehutanan dan peternakan adalah model wanatani yang paling sesuai dengan kondisi 2 desa dampingan. Peternakan adalah sektor yang tertinggal sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih.
  4. Hasil-hasil monev di tingkat desa akan dibahas dalam putaran selanjutnya dengan melibatkan parapihak terkait di tingkat kabupaten.
Berbagi dengan teman:

Share This:

Hulu Hilir Pengelolaan Hutan Rakyat Bersertifikat, Sawmill KWML Sudah Beroperasi

Playen-20130519-003151KWML telah mengelola Unit Penggergajian Kayu Rakyat yang berlokasi di Desa Dengok Gunungkidul. Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) bernomor 188/1409 dari Gubernur DIY tertanggal 6 Maret 2013 telah dimiliki oleh Sawmill KWML. Selanjutanya, KWML juga telah memiliki Tenaga Teknis Penerbit Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO). Dengan demikian, KWML sudah siap memasuki dunia perdagangan kayu olahan.
Untuk pengolahan kayu olahan menjadi produk-produk jadi, seperti mebel, kusen, pintu, jendela, KWML memiliki unit industri lanjutan, kelompok usaha bersama (KUB), dan industri rumah tangga yang telah memproduksi. Terdapat 4 KUB di Desa Dengok, Kedungeris, dan Girisekar. Sementara, industri rumah tangga banyak tersebar di desa-desa di Gunungkidul.
“Seperti diketahui, KWML mengelola hutan rakyat lestari dan telah memperoleh sertifikat PHBML dan VLK dengan luas lebih dari 1.000 hektare di 34 dusun di 7 desa. Artinya, dari sisi bahan baku kayu bulat, tidak ada kendala dan dijamin legalitasnya,” kata Sugeng Suyono, Ketua KWML.
Atas dukungan Pemerintah Gunungkidul, LSM, dan perguruan tinggi, KWML dapat mewujudkan gagasan pengelolaan hutan rakyat secara terpadu dari hulu hingga hilir.
Untuk pengembangan mesin dan bangunan kantor, serta ruang pelatihan, KWML telah dibantu oleh Kedutaan Jepang. Ke depan, KWML siap menjadi lokasi pembelajaran pengelolaan hutan rakyat lestari yang menampilkan pengelolaan terpadu. Harapannya, koperasi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi para anggotanya dalam pengelolaan hutan rakyat. (ewn)

 

Berbagi dengan teman:

Share This: